Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

membentuk tim impian

Beginilah realitasnya dan sudah menjadi rahasia umum dunia kerja kesenjangan yang sangat amat jauh antara atasan dan bawahan, pimpinan dan anak buah, manager dan karyawan. dan hal tersebut sudah menjadi lumrah dan tidak tabu lagi.
saya membaca sebuah tulisan yang berasal dari wawancara dan analisa tentang sebuah Tim Impian [the dream team] yang akan menentukan nasib perusahaan perkebunan milik negara tersebut. berikut ini postingannya.
Tim Impian [the dream team]

ika seorang bos tetap pada pendiriannya disebut konsisten.
Jika anak buah tetap pada pendiriannya disebut kaku.
Jika bos sering berubah pendapat disebut fleksibel.
Jika anak buah sering berubah pendapat disebut plin-plan.
Jika bos bekerja lambat disebut teliti.
Jika anak buah bekerja lambat disebut malas.
Jika bos cepat mengambil keputusan disebut berani.
Jika anak buah cepat mengambil keputusan disebut grusa-grusu.
Jika bos melanggar prosedur dianggap penuh inisiatif.
Jika anak buah melanggar prosedur dianggap tidak tahu aturan.
Jika bos mengatakan sesuatu itu mudah dianggap optimistis.
Jika anak buah mengatakan mudah dianggap sok tahu.
Jika bos sering mengintertaint orang itu disebut lobby.
Jika anak buah melakukannya disebut pemborosan.


Minggu pagi di Kementerian BUMN. Beberapa rapat diadakan di sepanjang hari tanggal 26 Februari 2012 itu. Salah satunya membicarakan dibentuknya dream team di seluruh perusahaan perkebunan milik negara. Di hari Minggu seperti itu, di saat tidak ada tamu dan banyak telepon, pembicaraan bisa lebih fokus.
Seluruh calon direktur utama di 15 perusahaan perkebunan (PTPN I sampai XIV plus PT RNI) dihadirkan. Sesuai dengan komitmen pembentukan sebuah dream team (ada yang menginginkan istilah ini menjadi winning team), masing-masing calon direktur utama diminta mengajukan usulan. Khususnya siapa saja yang mereka pilih untuk menjadi direktur mendampingi dirinya. Menteri BUMN tidak lagi menunjuk begitu saja siapa menjadi direktur apa di perusahaan mana.
Kini, Menteri BUMN lebih banyak mendengar usulan dari sang calon dirut. Proses ini sudah dimulai oleh Menteri BUMN sebelum saya, Bapak Mustofa Abubakar. Sewaktu saya ditunjuk menjadi direktur utama PLN dua tahun yang lalu, saya diberi hak untuk memilih siapa saja yang akan menjadi direktur PLN untuk mendampingi saya.

Dengan cara seperti itu tim direksi BUMN bisa lebih solid. Ketidakcocokan antar direksi tidak terjadi. Konflik bisa dihindari. Pertengkaran bisa dicegah. Backing-backingan, sponsor-sponsoran, dan jegal-jegalan bisa terhindarkan. Dari sini bisa diharapkan untuk ke depan tidak akan banyak intervensi yang harus dilayani. Maka energi direksi yang dulu banyak terbuang untuk bertengkar bisa difokuskan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Sambil melihat nama-nama yang diusulkan untuk menjadi direksi itu sebenarnya saya sekalian ingin melihat kemampuan para calon dirut itu dalam menyusun tim. Saya juga ingin melihat kemampuan mereka dalam memilih orang. Adakah unsur senang atau tidak senang. Adakah unsur pertemanan. Adakah unsur obyektivitas.
Kemampuan memilih orang adalah salah satu kunci sukses tidaknya seorang pemimpin. Seorang pemimpin puncak, di samping harus memenuhi syarat kapabilitas manajemen, juga harus dilihat kemampuannya dalam memilih orang. Seringkali terbukti bahwa tugas utama seorang pemimpin hanyalah bagaimana memilih orang yang tepat. Begitu berhasil memilih orang yang tepat seringkali tugas seorang pemimpin sudah selesai. Setidaknya sudah 80 persen selesai. Tapi begitu seorang pemimpin salah memilih orang, sang pemimpin tidak terbantu sama sekali, bahkan justru terbebani.

Saya ingin rapat Minggu pagi itu sekalian untuk membiasakan memilih orang secara terbuka. Meski masih terbuka-terbatas. Minimal diketahui bukan saja oleh saya, tapi juga oleh sesama calon direktur utama. Saya juga ingin seminimal mungkin bertanya. Bahkan saya tidak mengajukan nama calon sama sekali.
Nama-nama calon itu sudah ada di sebuah "gudang" calon direksi BUMN. Mereka adalah orang-orang yang selama ini sudah melewati proses seleksi calon direktur BUMN. Proses itu agak panjang. Mulai dari rekam jejak selama menjabat di BUMN, kesehatan, asesmen oleh lembaga asesmen independen, sampai ke fit and proper test. Nama-nama inilah yang diajukan kepada para calon direktur utama untuk dipilih dan "diperebutkan".

Ke depan, bisa saja setiap minggu ada fit and proper test atau asesmen yang dilakukan lembaga independen. Tapi sifatnya tidak lagi seperti dulu. Tidak akan ada lagi fit and proper test untuk jabatan direktur di PT X atau PT Y. Yang ada adalah fit and proper test untuk jabatan direktur. Bisa direktur apa saja dan di mana saja. Mereka yang sudah lulus fit and proper test itulah yang namanya dimasukkan dalam sebuah "gudang calon direktur". Isinya bisa puluhan atau ratusan. Dari berbagai sumber dan berbagai kompetensi. Kelak, para calon direktur utamalah yang akan memilih mereka. Seseorang yang sudah lulus fit and proper test bisa saja hanya sebentar berada di "gudang" itu. Bisa juga sangat lama. Tergantung apakah mereka cepat "laku" atau tidak.

Dengan cara ini maka tidak ada lagi keguncangan yang hebat di sebuah perusahaan BUMN. Selama ini, kalau di sebuah BUMN sudah ada beberapa manajer atas yang dipanggil untuk mengikuti fit and proper test, mulailah BUMN tersebut guncang. Sang manajer sudah merasa akan jadi direktur. Berarti akan ada direktur lama yang akan digusur. Mulailah terjadi perang urat-syaraf. Bahkan mulai menyusun barisan. Pengaruh-mempengaruhi. Bawahan menjadi terpolarisasi: mempertahankan direktur yang lama atau mendukung calon direktur yang baru. Proses ini kadang memakan waktu sampai satu tahun. Selama itu pula BUMN tersebut berada dalam suasana intern perang dingin.

Lebih dari itu. Ada pula fit and proper test palsu! Awal-awal saya menjadi menteri, ada beberapa orang dipanggil ke kementerian untuk menjalani fit and proper test. Saat itu mereka diberitahu fit and proper test tersebut untuk mengisi jabatan direksi di PT Bukit Asam. Mereka percaya karena fit and proper test tersebut dilakukan di sebuah ruang di Kementerian BUMN. Padahal di hari pelaksanaan fit and proper test itu saya sudah menandatangani SK pengangkatan direksi Bukit Asam yang definitif.

Ke depan tidal ada lagi fit and proper test untuk mengisi jabatan direksi di sebuah perusahaan tertentu. Yang ada adalah fit and proper test untuk mengisi "gudang" calon direksi BUMN.

Bisa dibayangkan betapa serunya rapat hari Minggu pagi itu. Jabatan direksi dibuka begitu saja untuk diperdebatkan. Nama-nama yang muncul dibahas mengenai tepat atau tidaknya. Integritasnya, antusiasmenya, kapabilitasnya. Ada nama yang dimunculkan kemudian ditarik kembali oleh yang mengusulkan. Ini karena dia tidak mau dinilai sebagai orang yang salah pilih.

Tentu, belum tentu cara ini paling ideal. Salah pilih bisa saja masih terjadi. Setidaknya tidak ada lagi salah pilih yang disengaja.

Kamis lalu hasil pembicaraan di hari Minggu pagi tersebut sudah diumumkan. SK sudah ditandatangani. Serah terima sudah dilakukan. Hanya saja tidak akan ada pelantikan. Pelantikan direksi baru kini ditiadakan agar BUMN lebih terasa korporasi. Direksi baru harus segera bekerja, bekerja, bekerja. Kadang menunggu waktu kosong untuk melakukan pelantikan membuang hari kerja beberapa minggu.
Dalam proses pembentukan dream team seperti itu, ada juga kelemahannya. Kadang seseorang yang secara individu sebenarnya hebat tidak berhasil masuk ke dalam tim. Seseorang yang sulit bekerja dalam sebuah tim, seseorang yang individualistisnya tinggi, dan seseorang yang memiliki potensi konflik biasanya tersisih dari organisasi yang mengutamakan kerja tim.

Dalam kehidupan sehari-hari saya sering melihat seseorang yang integritasnya luar biasa baik, kejujurannya luar biasa hebat dan disiplinnya sangat tinggi tersisih dari sebuah tim. Kesan yang muncul lantas sangat negatif: tersisih karena jujur. Atau orang-orang yang jujur sengaja disihkan. Orang-orang yang pintar sengaja tidak dipakai.

Karena itu untuk kebaikan semua pihak, saya berharap agar orang-orang yang jujur dan berintegritas tinggi bisa melengkapi dirinya dengan leadership. Agar semua orang jujur bisa masuk tim dan semua orang yang berintegritas tinggi bisa tampil memimpin. Sayang sekali kalau ada orang yang bersih tapi terlalu menyombongkan diri dengan kebersihannya. Akhirnya tercipta suasana seolah-olah hanya dia yang bersih. Apalagi kalau dia justru selalu menuduh orang-orang di sekitarnya tidak ada yang bersih.

Orang yang kaku biasanya sulit diterima dalam sebuah tim. Termasuk orang bersih sekali pun. Karena itu kita sangat memerlukan orang-orang yang bersih dalam jumlah yang banyak tapi juga bukan orang-orang yang kaku, yang sepertinya ingin masuk sorga sendirian.

Memang kaku atau fleksibel itu sangat nisbi. Simaklah SMS yang beredar luas ini:

Jika seorang bos tetap pada pendiriannya disebut konsisten.
Jika anak buah tetap pada pendiriannya disebut kaku.
Jika bos sering berubah pendapat disebut fleksibel.
Jika anak buah sering berubah pendapat disebut plin-plan.
Jika bos bekerja lambat disebut teliti.
Jika anak buah bekerja lambat disebut malas.
Jika bos cepat mengambil keputusan disebut berani.
Jika anak buah cepat mengambil keputusan disebut grusa-grusu.
Jika bos melanggar prosedur dianggap penuh inisiatif.
Jika anak buah melanggar prosedur dianggap tidak tahu aturan.
Jika bos mengatakan sesuatu itu mudah dianggap optimistis.
Jika anak buah mengatakan mudah dianggap sok tahu.
Jika bos sering mengintertaint orang itu disebut lobby.
Jika anak buah melakukannya disebut pemborosan.

Walhasil, santai sajalah!

Menyambut Ramadhan


Menyambut Ramadhan – Dalam hitungan belasan hari, kan tiba Ramadhan bulan suci. Selayaknya tamu istimewa, orang-orang mukmin patut mempersiapkan diri menyambutnya. Bagaimana menyambut Ramadhan?

Menyambut Ramadhan dengan Gembira
Menyambut Ramadhan dengan hati gembira adalah sebuah keniscayaan. Jika tamu istimewa seperti calon besan atau calon mertua saja kita sambut sedemikian bahagia, tentunya Ramadhan lebih layak untuk disambut dengan kegembiraan yang lebih besar.

Menyambut Ramadhan dengan gembira akan menjadi mudah bagi mereka yang telah mengetahui keutamaan Ramadhan. Keutamaan Ramadhan bisa dibaca DI SINI.

Menyambut Ramadhan dengan Doa
Untuk lebih menguatkan diri dalam menyambut Ramadhan, serta agar keinginan kita dikabulkan oleh Allah, sebaiknya kita juga banyak berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Coba kita perhatikan teman dan tetangga kita. Kita akan mendapati sebagian orang yang tahun lalu menikmati Ramadhan, tahun ini telah tiada. Demikian pula kita yang hari ini masih berupaya menyambut Ramadhan. Tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan Ramadhan 1432 nanti.

Karena itulah sebagian ulama dan orang-orang salaf berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan (HR. Ahmad, dhaif menurut Al Albani)

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan (HR. Al-Baihaqi dan Thabrani, dhaif menurut Al Albani)

Hadits di atas adalah dhaif. Karenanya ketika kita berdoa dengan hadits itu, kita tidak menyandarkannya secara pasti sebagai sunnah Rasulullah, namun hanya sebagai doa secara umum yang juga bisa diganti dengan doa lain termasuk dalam bahasa Indonesia. Yang penting intinya, kita berdoa dalam menyambut Ramadhan agar dipertemukan oleh-Nya.

Menyambut Ramadhan dengan Persiapan Ruhiyah, Fikriyah, Jasadiyah, dan Maliyah
Setelah kita memiliki kegembiraan dalam menyambut Ramadhan dan berdoa, persiapan menghadapi Ramadhan tidak kalah pentingnya. Persiapan itu meliputi empat hal; ruhiyah (ruhani, mental), fikriyah (ilmu), jasadiyah (fisik), dan maliyah (harta). Keempat aspek itu kita siapkan bukan hanya dalam dimensi pribadi namun juga dalam keluarga kita.

Menyambut Ramadhan dengan empat persiapan itu telah dibahas pada posting sebelumnya, diantaranya adalah link di bawah ini:
Menyambut Ramadhan 1430 H
Persiapan Menghadapi Ramadhan 1431 H
Menyambut Ramadhan 1432 H

Demikian sebagian tips bagaimana kita Menyambut Ramadhan. Semoga dengan saling berbagi tips Menyambut Ramadhan kita lebih siap dalam memasuki Ramadhan 1432 H dan tergolong sukses sebagai kepompong Ramadhan yang nantinya keluar menjadi kupu-kupu indah; orang bertaqwa. Sahabat bersedia berbagi tips Menyambut Ramadhan, silahkan tuliskan pada komentar di bawah ini. []

Rasulullah Tak Menshalati Jenazah Pelaku Korupsi


Oleh: Prof Dr KH M Abdurrahman MA

Problematika bangsa dan umat saat ini adalah korupsi. Dalam bahasa Al-Quran, identik dengan kosakata ghulul (khianat) atau fasad. Ghulul karena menyembunyikan, mengkhianati sesuatu. Dan disebut fasad karena berimplikasi pada kerusakan atau kerugian negara yang menghancurkan negara itu sendiri.

Fenomena korupsi saat ini sudah menyangkut persoalan yang disebut sebagai problem kebangsaan dan keumatan. Bila melihat pada kasus yang terjadi di zaman Rasulullah SAW, terhadap orang yang melakukan korupsi (ghulul), Rasul tidak akan menshalati jenazahnya.

Sedikitnya, ada tiga faktor untuk mencegah merebaknya korupsi di Tanah Air. Pertama, faktor spiritual. Orang yang tingkat spiritualitas keagamaannya baik, tentu dia tidak akan berbuat dan berlaku korup. Bangsa Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Mengapa banyak praktik korupsi di negeri ini? Jawabnya, karena tidak adanya nilai-nilai spiritual dalam kehidupannya. Shalat, zakat, puasa, dan haji yang dikerjakannya sebatas praktik semata tanpa diimbangi dengan perbuatan nyata. Artinya, ibadahnya tidak mampu menghindarkan dirinya dari perbuatan dosa dan godaan duniawi.

Kedua, aspek sosial. Seorang Muslim harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Sesama Muslim harus saling mengingatkan dan mencegahnya. Imam Bukhari meriwayatkan, "Al-Muslimu man salimal Muslimuna min lisanihi wa yadihi". Muslim itu ialah orang yang menyelamatkan Muslim lain dengan bahasa dan tangannya (perbuatannya).

Sungguh berat dan banyak godaan untuk mengimplementasikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sosial, sehingga kenyataan kehidupan yang sekarang penuh dengan israf (berlebihan), tabdzir (kemubaziran), dan itraf (kemewahan) makin mendorong seseorang mencari harta yang tidak suci itu.

Setan akan selalu menggoda manusia dan berusaha menjerumuskannya ke dalam perbuatan dosa dan maksiat. Karena itu, kita harus menjaganya dengan shalat, zikir, dan perlindungan kepada Allah SWT.

Dan, korupsi adalah perbuatan yang akan menjerumuskan pelakunya pada tindakan merugikan negara, sekaligus hak orang lain. (QS al-Ankabut [29]: 45).

Ketiga, aspek legal formal, sebagai produk konstitusional. Tujuannya, untuk menghukum dan mengadili para koruptor supaya jera. Undang-Undang Tahun 2002 jelas memberikan hukuman mati bagi koruptor sebagai hukuman maksimal. Sayangnya, UU itu seolah tidak tersentuh. Mestinya, perundangan ini disebarluaskan sehingga menjadi rasa takut bagi pelaku korupsi.

Dalam Alquran, pelaku korupsi sama dengan ghulul, yaitu merugikan orang lain karena khianat. (QS Ali Imran [3]: 161). Koruptor itu termasuk perampok harta dan kekayaan negara, karenanya pantas mendapatkan hukuman keras seperti hukuman mati. Apalagi, Rasul SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, melarang para sahabat-sahabatnya termasuk umatnya menshalatkan jenazah koruptor karena pelakunya melakukan perbuatan khianat kepada saudara-saudaranya.

[Disarikan dari Hikmah Republika Koran. Judul asli tulisan adalah Ghulul = Korupsi, Republika]

Rahasia Menulis – Salim A. Fillah


Rahasia Menulis – Salim A. Fillah. Berikut ini adalah kulwit #write dari Salim A. Fillah. Di dalamnya terdapat ilmu dan hikmah luar biasa bagi kita, baik yang sudah menulis, tengah menulis, maupun ingin menulis. Alhamdulillah, Bersama Dakwah mendapat izin dari Ust. Salim A. Fillah untuk turut menyebarkan kulwit yang sangat bermanfaat ini. Langsung saja kita ikuti:

Mengapa Menulis
1. Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data.

2. Tapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran dan bersembunyi di jalur rumit otak.

3. Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk sekitab.

4. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi'i; ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.

5. Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu dan dikaruniai pengertian; adakah kemajuan?

6. Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan.

7. Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu menyedihkan.

8. Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan dan penilaian.

9. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar dan sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan.

10. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan.

11. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam.

12. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak.

13. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi.

14. Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan.

15. Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran...

16. ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, dan Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham bukunya?

17. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat 'jariyah'; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan.

18. Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai.

19. Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba.

20. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, "Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?"

21. Moga kelak dijawabNya, "Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan."

22. Tulisan sahih dan mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan.

23. Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi "Baca!"

24. Tersebut di HR Ahmad dan ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, "Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman...

25. .."Tulislah!" Tanya Pena; "Apa yang kutulis, Rabbi?" Kata Allah; "Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu."

26. Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam dan membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31)

27. Dan "Baca!"; wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca, Sebab...

28. ..menulis -kata mereka- ialah alat bantu bagi yang hafalannya di bawah rata-rata, tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta.

29. Muhammad hadir bukan dengan mu'jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut 'Bacaan'.

30. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero bumi.

31. Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah dunia.

32. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, dan tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan?

3 Kekuatan Menulis
33. Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, dan Daya Memahamkan.

Daya Ketuk
34. Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat & keikhlasan.

35. Pertama, marilah jawab ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa ia harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya?

36. Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis.

37. Alasan kuat tentang diri, tema, dan akibat dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan.

38. Keterlibatan hati dan jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan.

39. Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah dan semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca.

40. Menulis memerlukan kata yang agung dan berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap dan takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala.

41. Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu; terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga suci...

42. ...dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertaqwa (QS 16: 66).

43. Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan tak mudah, ada goda kotoran dan darah, kekayaan dan kemasyhuran, riya' dan sum'ah.

44. Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan dan perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci.

45. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran dan darah, racun dan limbah; lalu disajikan pada pembaca.

46. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu dan ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis dan berbagi.

47. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, dan muntah bahkan saat baru mengamati awalnya.

48. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya.

49. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati.

50. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu' dan shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata..

51. ...Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa..

52. ...lalu menulis itu sekedar satu dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan mengemuka.

Daya Isi
54. Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa.

55. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf dan tergugah; tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru.

56. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; "Fakidusy Syai', Laa Yu'thi: yang tak punya, takkan bisa memberi."

57. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti.

58. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya; dan membawakan makna ke alam tinggalnya.

59. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal dan hati.

60. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi.

61. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang dan kedalaman tafsir.

62. Dengan proses internalisasi; semua data dan telaah yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan bergizi.

63. Sebab konon 'tak ada yang baru di bawah matahari'; tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali.

64. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat satu masalah dari banyak sisi.

65. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak.

66. Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih dan tertentu.

67. Dia hubungkan makna nan kaya; fikih dan tarikh; dalil dan kisah; teks dan konteks; fakta dan sastra; penelitian ilmiah dan sisi insaniyah.

68. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali; tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari.

69. Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing-masing pembaca; beda bagi pembaca sama di saat lainnya. Membaru, mengilhami selalu.

70. Maka karyanya melahirkan karya; syarah dan penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, dan bahkan bantahan.

Daya Memahamkan
71. Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan satu pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia.

72. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu dan berwawasan dibandingkan dirinya sendiri.

73. Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: "Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu."

74. Setiap tulisan dan buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis "Aku tahu! Kamu tak tahu!" pasti berat dan membuat penat saat dibaca.

75. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak tersengaja lahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu.

77. Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari "Aku tahu! Kamu tak tahu!" menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, dan rendah hati.

78. Penulis sejati ukirkan semboyan, "Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu."

79. Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi.

80. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya.

81. Penulis sejati jadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma guru berjuta ilmu.

82. Inilah yang jadikan tulisan akrab dan lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, dan rendah hati.

83. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami.

84. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai dan tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet dan jemari terhenti.

85. Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual.

86. Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan.

87. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat..

88. ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli..

89. Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih dikenal.

90. Penulis sejati hayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti mereka.

91. Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang sahaja.

92. Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, dan tambah data.

93. Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini.

94. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata.

95. Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan..

96. ..dengan tekad bulat tuk menjadi orang pertama nan mengamalkan tulisan, dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, penuh cinta.

97. Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang #Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli tentangnya:)

98. Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal dan mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia.

99. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, 'amal shalih, dan saling menasehati.

100. Jika ada 'amal lain yang lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu: tinggalkan menulis menujunya.

Demikian kulwit #write dari Salim A. Fillah. "Rahasia Menulis – Salim A. Fillah" hanyalah judul yang diberikan Bersama Dakwah untuk memudahkan pembaca, mohon maaf jika malah mengurangi daya ketuk, daya isi, dan daya memahamkan kulwit ini. Kepada Ustadz Salim A. Fillah kami sampaikan jazaakallah khairan katsir, jazaakallah ahsana jazaa atas izin dan ilmunya. []

Menjemput Kesetiaan


Oleh : Cahyadi Takariawan

Engkau aktif dalam kegiatan dakwah ? Engkau telah bekerja melakukan berbagai upaya menebarkan kebaikan di daerah ? Jika ya, maka mungkin engkau pernah mendengar ucapan-ucapan seperti ini, entah dari siapa.

“Luar biasa aktivitas anda membesarkan dakwah di daerah. Sayang sekali, senior anda yang di pusat justru mengkhianati perjuangan anda. Mereka telah mengejar harta, tahta dan wanita, dan melupakan tujuan perjuangan. Lalu, untuk apa anda tetap berpayah-payah di daerah?”

“Sia-sia semua yang kalian kerjakan. Hasilnya dirampas oleh sebagian kecil elit di antara kalian. Apa kalian masih akan bertahan ?”

“Lihatlah apa yang terjadi pada kalian. Setiap hari bertabur berita jelek di media. Itu menandakan aktivitas dakwah kalian sudah jauh menyimpang, karena kerakusan para pemimpin kalian. Mereka telah gila dunia dan melupakan akhirat”.

Semua kata-kata itu keluar begitu saja dari mereka yang tidak mengerti makna ucapannya sendiri. Seakan-akan semua yang diucapkannya adalah kebenaran. Seakan-akan yang disampaikan adalah data dan fakta yang telah teruji kebenarannya, lalu semua yang mendengarkan diharapkan segera beriman. Seakan-akan semua yang mereka ungkapkan adalah dalil pembenaran untuk meninggalkan gelanggang perjuangan.

Alkisah, seorang kader dakwah merasa tengah mengalami titik kejenuhan. Banyak beban dakwah dan beban kehidupan harus dihadapi sendiri. Ia mulai merenung, berpikir, dan akhirnya merasa semakin lemah. Aktivitas dakwah yang semula menumpuk setiap hari, perlahan mulai dikurangi. Dikumpulkannya “kata orang” tentang pemimpinnya. Dia belanja isu tentang kehidupan para pimpinan dakwah. Cukup banyak sudah isu dikumpulkan, semua semakin melemahkan semangat dakwahnya. Ia mulai menghitung ulang keterlibatannya dalam aktivitas dakwah, dan mempertimbangkan langkah mundur ke belakang.

Di hadapanku ia curahkan semua isi hatinya. Sesak, gumpalan beban menghimpit dada dan hatinya. Lelah, penat, jenuh, kecewa, sedih, bercampur aduk…. Air matanya tumpah ruah saat bercerita tentang kepedihan hatinya. Aku merasakan bendungan perasaan itu ambrol, air bah kekecewaan mengalir sangat deras tidak terbendung. Dahsyat, luar biasa….

Aku segera menceritakan makna ikhlas bagi kader yang berada di lapangan. Aku hanya kader lapangan, waktuku habis di jalan, bukan di kantoran. Aku tidak bisa menjelaskan dengan rangkaian teori yang “tinggi-tinggi”. Ilmuku adalah ilmu lapangan, ilmu aplikasi, berisi pengalaman dan akumulasi rekaman kejadian setiap hari. Teoriku adalah teori kehidupan, yang aku dapatkan langsung dari medan perjuangan. Merekam detail hikmah yang muncul dari perjalanan di sepanjang wilayah dakwah.

Saudaraku, aku ajak engkau melihat benih-benih yang kita semai di ladang-ladang dakwah di berbagai wilayah. Subhanallah, benih itu tumbuh subur menghijau, membuat takjub siapapun yang melihat dan merasakan detak pertumbuhannya. Kita sirami benih itu, dan kita rawat dengan sepenuh cinta dan kasih sayang. Perasaan lelah dan jenuh menghadapi berbagai kendala, segera hilang sirna dengan sempurna, saat menyaksikan hasil semaian di ladang-ladang dakwah kita.

Rasa jenuh dan lelah bisa hinggap pada hati dan pikiran siapa saja. Pekerjaan rutin sehari-hari membuat kita mudah mengalami kejenuhan, apalagi jika yang dihadapi hanya koran, berita televisi, internet dan kata orang. Dunia disempitkan oleh media, bukan diluaskannya. Lalu apa yang menyemangati kita ? Mari berjalan menikmati hijaunya lahan-lahan semaian dakwah yang telah kita rawat lebih dari dua puluh tahun lamanya. Berjalan, bertemu kader-kader dakwah di setiap daerah, menyapa dan membersamai aktivitas mereka. Subhanallah, lihat wajah-wajah cerah yang tampak di setiap pertemuan.

Di sebuah mushalla kecil di kecamatan Piyungan, Bantul, Yogyakarta, aku merasakan optimisme dan membuncahnya harapan. Di sebuah ruang sederhana di Gendeng, Baciro, Kota Jogja, aku menjadi saksi kesetiaan tanpa jeda. Di sebuah gedung pertemuan di Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, aku merasakan detak jantung penuh cinta. Di sebuah ruangan di Baubau, Sulawesi Tenggara, aku merasakan getar kesadaran akan kemenangan. Di sepanjang bumi Sumatera aku melihat dan merasakan pancaran semangat yang membara. Di berbagai belahan Kalimantan aku mendapatkan suasana gelegak kehangatan tak terkalahkan. Di Nusa Tenggara Barat, yang muncul hanyalah optimisme menghadapi medan perjuangan. Di Maluku, kepal tangan yang terangkat kuat menandakan tak akan menyerah menghadapi kendala dakwah. Di Papua, minoritas bukanlah alasan untuk merasa lemah dan kalah.

Lalu apa yang melemahkanmu, saudaraku ? Berjalanlah, dan semua wilayah ini adalah bumi dakwah, tempat kita menyemai cinta. Bergeraklah, dan semua daerah ini adalah bumi perjuangan, tempat kita menanamkan harapan. Dimanapun engkau berjalan, dimanapun engkau bergerak, akan merasakan kesegaran udara yang sangat jernih. Tak ada polusi di sana, polusi itu justru ada di sini, di tulisan ini. Tulisan yang tak mampu menggambarkan betapa besar sesungguhnya ukuran cinta dan harapan yang ada pada dada para kader di sepanjang wilayah dakwah. Tulisan yang saya khawatirkan justru menyempitkan makna kesetiaan dan keikhlasan setiap titik perjuangan kader di seluruh bumi Allah.

Maka bergeraklah, berjalanlah, beraktivitaslah bersama kafilah dakwah. Rasakan sendiri, lihat sendiri, dengarkan sendiri kata-kata mutiara yang muncul dari lapangan. Diam telah membuatmu merasakan kejenuhan. Tidak bergerak menyebabkan pikiranmu dipenuhi pesimisme dan kegalauan. Tidak berkegiatan membuat hatimu selalu dalam kebimbangan dan keputusasaan. Bergeraklah di lapangan dakwah, engkau akan menemukan sangat banyak harapan dan untaian mutiara kesabaran.

Jadi, apa yang melemahkanmu, saudaraku ? Lihat sendiri, dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana wajah-wajah penuh kecintaan akan selalu engkau dapatkan. Kemanapun engkau pergi, yang engkau temui adalah benih-benih tersemai dengan pupuk keimanan dan keutamaan. Kemanapun engkau melangkah, yang engkau dapatkan adalah buah-buah yang terawat oleh cinta dan kasih sayang para pembina. Para pembina telah mencurahkan cinta, telah menorehkan kasih, telah memahatkan sayang di hati sanubari semua benih dakwah di sepanjang daerah.

Bisakah engkau menanamkan bibit-bibit kebencian, kemarahan, dendam dan kesumat, lalu menyuburkannya hanya dengan pupuk isu serta gosip sepanjang masa? Bisakah engkau menciptakan lahan-lahan yang akan tersuburkan dengan fitnah, caci maki dan sumpah serapah ? Siapa yang akan bisa memberikan cinta, jika yang engkau keluarkan untuk mereka adalah dendam membara ? Siapa yang akan memberikan kesetiaan, jika yang engkau tanam adalah benih-benih permusuhan ? Siapa yang akan memberikan ketulusan, jika yang engkau taburkan adalah kebencian ?

Jadi, apa yang menggelisahkanmu saudaraku ? Seorang kader dakwah di Paniai, Papua, menitipkan pesan penting saat aku kesana. “Yang sangat kami perlukan adalah kehadiran para Pembina. Kami sangat optimis dengan medan dakwah di sini”. Subhanallah, seperti terbawa mimpi. Paniai bahkan tidak engkau kenal wilayahnya ada dimana. Engkau tidak mengetahui bahwa di tempat yang sangat jauh dari keramaian kota itu ada banyak harapan untuk kebaikan. Benar kan, di sana tidak ada polusi? Karena polusi itu ada di sini, di tulisan ini. Tulisan yang tak mampu merangkum kuatnya kecintaan dan tulusnya harapan dari kader-kader di daerah.

Di sebuah ruang sederhana, di Wamena, Papua, aku mendapatkan dan merasakan gelora semangat yang sedemikian membahana. Demikian pula di Merauke. Sekelompok kader telah bekerja melakukan apa yang mereka bisa, dan ternyata lahan-lahan kering itu sedemikian suburnya. Tak dinyana, semula kita membayangkan akan kesulitan menanam benih di lahan yang teramat kering kehitaman. Namun taburan benih tak ada yang sia-sia. Semangat demikian tinggi mengharap kehadiran kita untuk menyaksikan pertumbuhan, karena benih telah dirawat dan dipelihara dengan sepenuh jiwa.

Di sebuah pojok ruang di Manokwari, Irian Jaya Barat, tak kalah semangat menjalani aktivitas perjuangan. Beberapa gelintir generasi dakwah, telah menanamkan benih-benih di berbagai wilayah. Siapa menyangka ternyata kecintaan dan kesetiaan yang tulus dimiliki oleh mereka yang tinggal jauh di ujung Indonesia. Genggaman tangan sangat kuat dan hangat masih aku rasakan, seakan tak mau melepaskan. Bahkan mereka menghantarkan aku hingga di depan tangga pesawat terbang. Kisah-kisah heroik aku dapatkan selama menemani mereka menyemai benih di bumi Irian Jaya Barat. Insyaallah pahala berlipat telah Allah limpahkan untuk mereka.

Jadi, hal apa lagi yang meresahkanmu, saudaraku ? Pernahkah engkau mendengar Polewali, Majene, Mamuju dan Mamasa ? Mungkin engkau belum pernah mencarinya di dalam peta. Itu nama-nama kabupaten yang ada di Sulawesi Barat, propinsi yang terbentuk setelah dimekarkan dari Sulawesi Selatan. Aku telah melawat berhari-hari lamanya, menemukan bongkahan semangat yang sangat potensial. Sangat banyak luapan energi yang siap untuk mencerahkan wilayahnya. Mereka menjemput kesetiaan dengan melakukan sangat banyak kegiatan, di tengah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi.

Aku juga mengunjungi dan menyapa kader-kader di Mataram, Lombok, Sumbawa, Dompu dan Bima. Luar biasa semangat kader-kader dakwah di sana. Di sudut-sudut ruangan, aku menemukan kenyataan cinta itu hidup segar, bersemi indah dan terawat dengan cermat. Tangan-tangan halus para pembina telah membentuk karakter yang kuat pada para aktivis dakwah, sehingga mereka terus menerus bekerja tanpa mengenal lelah, padahal tidak ada yang memberi upah. Hanya Allah yang menjadi tumpuan harapan kerja mereka. Luar biasa.

Di sepanjang ruas jalan yang aku lalui di Balikpapan, Samarinda, Kutai Timur, Kutai Kertanegara, Penajam, Berau, yang terhirup adalah udara jernih, bukti kemurnian tujuan perjuangan. Demikian pula saat aku menapaki Banda Aceh, Pidie, Lhokseumawe, Langsa, Meulaboh, yang terasakan hanyalah semangat berkontribusi tanpa henti. Para kader telah bertahan di medan perjuangan dengan segenap kecintaan dan harapan. Tak ada polusi di sana, karena polusi itu adanya di sini. Di tulisan ini. Tulisan yang tak mampu mengkabarkan dengan tepat betapa keutuhan dan ketulusan langkah perjuangan kader-kader dakwah di sepanjang wilayah. Sepanjang mata memandang, yang tampak adalah dinamika berkegiatan, berlomba melakukan hal terbaik yang bisa mereka lakukan, berlomba mencetak prestasi dan karya besar bagi bangsa dan negara.

Maka, apa yang meragukanmu, saudaraku ? Suara-suara itu, tuduhan-tuduhan itu, kata-kata itu ? Aku bukan seseorang yang berwenang menjelaskan. Maka aku tak mau mendengarkannya, karena sama sekali tidak ada artinya bagiku. Aku hanyalah seorang kader lapangan. Waktuku habis di jalan, bukan di kantoran. Aku merasakan gairah pertumbuhan, aku mendengarkan degup jantung penuh kecintaan, aku mencium harum aroma kemenangan, aku melihat gurat keteguhan, aku menikmati cita rasa kesetiaan. Aku menjadi saksi betapa suburnya cinta dan kesetiaan kader di sepanjang jalan dakwah, di sepanjang bumi Allah.

Waktu, tenaga, pikiran, harta benda bahkan jiwa telah mereka sumbangkan dengan sepenuh kesadaran. Tidak ada yang terbayang dalam benak mereka, kecuali upaya memberikan yang terbaik bagi perjuangan. Berbagai kekurangan dan kelemahan mereka miliki, namun tidak menyurutkan semangat dan memadamkan gairah yang menggelora di dada. Mereka yakin akan janji-janji Ketuhanan, bahwa kemenangan itu dekat waktunya. Mereka menjemput kesetiaan dengan selalu bergerak, berbuat, beraktivitas di lapangan. Bukan duduk diam menunggu sesuatu, atau melamunkan sesuatu.

Suara-suara itu, tuduhan-tuduhan itu, caci maki itu, apakah masih ada artinya jika engkau telah menghirup nafas dari udara yang sangat jernih di wilayah dakwah ? Apakah masih membuatmu gelisah jika tubuhmu telah basah oleh keringat dari perjalanan panjang yang sangat menyenangkan di berbagai daerah ? Apakah masih membuatmu ragu jika matamu telah memandang kehijauan lahan-lahan yang kita semai di sepanjang bumi Allah ? Apakah masih membuatmu gundah jika hatimu telah bertaut dengan aktivitas kader-kader dakwah yang menjemput kesetiaan dengan berjaga dan bertahan di berbagai medan perjuangan ?

Sungguh, aku menjadi saksi kesetiaan mereka di sepanjang jalan dakwah. Aku menjadi saksi hasrat dan kecintaan mereka yang sedemikian besar kepada perjuangan dakwah. Aku juga berharap, kader-kader di daerah mengerti betapa besar cinta kami kepada lahan-lahan yang tumbuh bersemi. Aku selalu memohon perlindungan dan kekuatan kepada Allah, semoga Allah selalu melindungi dan menjaga dakwah dan para qiyadah. Aku selalu memohon kepada Allah, agar semangat dan gairah dakwah tidak pernah melemah. Ya Allah, beritahukan kepada kader-kader yang setia berjaga di garis kesadaran dan harapan, betapa besar cinta kami kepada mereka. Ya Allah sampaikan kepada para kader yang telah bekerja sepenuh jiwa, betapa hati kami selalu tertambat kepada mereka.

Beritahukan ya Allah, cinta kami sangat tulus untuk mereka. Selamanya.

Selamanya ! []

Setelah Usamah Ditembak


Oleh Zaim Uchrowi

Usai sudah drama panjang itu. Senin pagi lalu, Amerika Serikat mengumumkan bahwa pemimpin Alqaidah, Usamah bin Laden, telah tewas ditembak. Usamah disergap di sebuah rumah di kota kecil Abbottabad, hanya sekitar dua kilometer dari pangkalan militer Pakistan. Konon, jenazahnya diurus secara Islam, sebelum kemudian ditenggelamkan ke laut.

"Dalam Islam, jenazah harus dimakamkan kurang dari 24 jam. Kita kesulitan mencari negara yang mau jadi tempat penguburannya." Begitu alasan yang dikemukakan. Sebuah alasan yang manis. Amerika, sebagaimana bangsa manapun, tak ingin ada simbol perlawanan terhadap negaranya. Makam Usamah dapat menjadi simbol begitu. Amerika beruntung, kalangan Wahabi-dari mana Usamah berasal-tak menganggap penting makam.

Satu babak telah ditutup. Mungkin akan ada babak baru pascadrama Usamah. Tapi setidaknya, sekarang tengah jeda. Sebuah saat yang baik buat merenung kembali, apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa di balik ingar-bingar drama dunia berjudul "terorisme" itu hingga dapat terpentaskan selama lebih dari satu dasawarsa? Apa yang perlu kita pelajari buat dunia yang lebih baik mendatang?

Usamah, pada dasarnya, seorang yang baik. Orang yang mengenalnya, seperti anak Adnan Khasogi, menyebut itu. Wajahnya teduh. Tatapan matanya sejuk. Kata-katanya santun. Tentu saja taat beribadah. Hatinya lembut, sangat peduli, dan ringan tangan menolong orang lain. Itulah yang membawanya ke Afghanistan. Saat itu, Afghan tengah terbelah. Ada pemerintah yang ingin memodernisasi bangsanya di satu sisi. Ada oposisi yang merangkul kelompok-kelompok masyarakat tradisional di sisi lain.

Terdesak, Pemerintah Afghan meminta bantuan Uni Soviet, simbol komunisme saat itu. Oposisi memanfaatkannya untuk mengusung label 'Mujahidin'. CIA dan militer Pakistan berkepentingan dengan Afghan. Bahu-membahu mereka membujuk Usamah untuk berjihad melawan kafir komunis. Usamah menggelontorkan uangnya dan ikut perang. Anak-anak Afghan, para siswa madrasah di Pakistan, pun direkrut menjadi pasukan Taliban. Dengan dukungan Amerika dan Pakistan, Taliban-Mujahidin berhasil mengusir Soviet. Tapi, Taliban lalu menghancurkan Mujahidin untuk merebut kekuasaan.

Usamah pulang ke Saudi, kembali berbisnis. Tiba-tiba, Saddam menyerang Kuwait, George Bush memanfaatkannya. Saat itu ekonomi Amerika goyah akibat industri senjata terpuruk. Raja Kuwait ingin merebut kembali negaranya. Saudi butuh perlindungan agar tak diserang Saddam. Dibayar Kuwait dan Saudi, Bush pun menggempur Irak. Konon sekitar 70 persen uang Kuwait habis untuk itu. Juga hampir separuh Saudi. Negara kaya minyak yang masih dapat uang dari haji itu.

Usamah marah pada persekutuan Bush-Raja Fahd. Ia mulai bersuara keras; Saudi mengusirnya. Usamah lari ke Sudan, menghidupkan Alqaidah. Pengikutnya pun mengebom kapal perang Amerika di Yaman, juga Kedutaan Amerika di Nairobi. Terdesak di Sudan, Usamah lari ke Afghan bergabung Taliban-pemerintah antiperadaban yang mengatasnamakan Islam. Gembiralah Bush (Jr). Amerika perlu simbol musuh setelah komunis ambruk. Teroris adalah simbol musuh yang bagus. Usamah adalah nama besar yang layak dicap sebagai 'raja teroris', apalagi setelah peristiwa 11 September di New York, juga tragedi Bom Bali. Kebiadaban yang dilakukan orang-orang baik salah jalan pengagum Usamah.

Menjadi orang baik dan terus berjuang menegakkan kebenaran itu harus. Namun, niat baik harus dilaksanakan dengan cara yang benar-benar baik dan tidak salah, sesuai keadaan yang ada. Itu yang dicontohkan Nabi Muhammad. Bila jalan mewujudkan niat baik keliru, hasilnya akan sangat fatal: akan lahir tragedi yang mengorbankan banyak orang tidak berdosa. Lebih dari itu, juga akan terjebak menjadi bagian permainan orang-orang seperti Bush.

Itu yang terjadi pada Usamah. Seorang yang lahir dan besar dari iklim keagamaan yang tak paham peradaban. Setelah masa Khulafaur Rasyidin, Jazirah Arab tak pernah lagi menjadi pusat peradaban. Wawasan keagamaannya menjadi sempit, tak seperti di masa Rasulullah SAW dan empat sahabat. Iklim keagamaan itulah yang melahirkan negara Islam kaya minyak yang suka terus memperkaya negara-negara lain yang sudah sangat kaya, namun tega membiarkan saudaranya sendiri di depan mata kelaparan hingga bertikai satu sama lain dan hancur luluh berantakan. Lihatlah keadaan Sudan, Eritrea, apalagi Somalia yang diabaikan para pemimpin Islam Arab.

Islam adalah agama peradaban seperti yang ditunjukkan Nabi. Semestinya pribadi seperti Usamah-juga Ustaz Abubakar Ba'asyir-tak kelewat polos untuk memahami peradaban. Pergulatan dunia adalah pergulatan peradaban. Pergulatan yang dijalani dengan cermat oleh Jepang, Korea, dan Cina, bukan oleh Jazirah Arab yang lebih sibuk menghitung-hitung uang. Polos soal peradaban akan dengan mudah dijebak orang-orang seperti Bush untuk menjadi bagian permainannya. Orang-orang baik akan dijebak menjadi teroris, yang tanpa sadar membuat lingkungan sendiri babak belur.

Drama Usamah sudah ditutup. Drama yang meninggalkan pelajaran agar semua lebih peduli soal peradaban. Mari ajarkan peradaban. Mari pertautkan agama dan peradaban sebagaimana mestinya. Itu yang dapat mempersempit ruang bagi orang-orang macam George Bush-yang selalu ada di setiap masa-untuk membuat drama baru yang mengacaukan kedamaian dunia. [Republika]

Aku Heran


Aku heran kepada mereka
yang teriak-teriak negara Islam
Namun tak segera ke masjid ketika mendengar azan

Aku heran kepada mereka
yang menyerukan penegakan syariat
Namun ketika fajar tiba matanya masih terlelap

Aku heran kepada mereka
yang mengkampanyekan hukum Al-Qur’an
Namun membiarkan mushafnya berdebu hingga usang

Aku heran kepada mereka
yang berkoar-kora boikot Israel dan Amerika
Namun makannya di Mc.D dan minumnya coca-cola

Aku heran kepada mereka
yang menyuarakan persatuan
Namun lisannya tidak berhenti dari menyakiti
dan menjelek-jelekkan orang-orang beriman

Aku heran kepada mereka
yang yang menggembor-gemborkan kebangkitan Islam
Namun membiarkan istri dan anaknya terjahiliyahkan
oleh tipuan sinetron dan nyanyian

Aku heran kepada mereka
yang menginginkan kemenangan Islam
Namun masih saja berdiam, tidak berjuang

Aku heran kepada mereka
yang meyakini datangnya kematian
Namun masih saja asyik bergelimang dalam kemaksiatan

Semoga kita bukan mereka

Berani Mundur


Arifinto sungguh disayang Tuhan. Anggota DPR itu saya yakin seorang yang baik. Lebih baik dari rata-rata orang, lebih baik dari kebanyakan rekan legislatifnya. Tapi, sebaik-baik orang tentu punya kelemahan, tak terkecuali orang baik ini. Ia melakukan yang tak patut bagi orang sebaik dirinya, apalagi di tengah rapat Paripurna DPR—rapat yang semestinya diikuti cermat oleh semua pesertanya.

Allah SWT mengingatkannya lewat lensa kamera wartawan. Hal yang sesaat tentu memukul perasaannya juga perasaan rekan-rekan separtainya yang memosisikan diri untuk menegakkan moral. Pukulan tertelak tentu harus ditanggung keluarganya. Mereka tiba-tiba harus mendapat kerlingan aneh orangorang di sekitarnya. Tapi, seorang Arifinto tentu seorang realistis. Ia sadar dan siap memikul konsekuensi atas perbuatannya.

Tak banyak orang yang segera di ingatkan Tuhan begitu berbuat salah. Tak sedikit orang yang berbuat salah lebih parah dari dia, namun dibiarkan Tuhan. Banyak pejabat yang gemar berzina juga rajin menilap uang rakyat dengan berbagai cara, baik yang kasar maupun yang tampak beradab, tapi Allah membiarkannya. Mereka dibiarkan hanyut dalam perbuatan kotornya dan tak dipermudah jalannya untuk kembali menjadi orang baik.

Arifinto tidak seperti itu. Ia tidak pernah benar-benar kotor seperti banyak orang lain yang tampak baik dan terhormat —padahal tidak. Nuraninya relatif terjaga. Ketika menyadari telah melakukan hal yang tak patut, segera ia menginstro speksi diri. Ia memilih mengundurkan diri. Hal yang hampir tak akan pernah dilakukan siapa pun di DPR, bahkan oleh mereka yang memiliki kesalahan lebih besar.

Di dalam dunia politik kita, mundur belum biasa. Sangat berbeda dengan Jepang. Pejabat yang dinilai kurang patut, berdasarkan norma Jepang, akan segera mundur. Pejabat yang dituding bersalah oleh publik akan mundur. Mereka tidak akan mencoba membela diri, dan mereka tidak sibuk berdalih menutupi kesalahan atau kekurangannya. Buat mereka, jabatan adalah kepercayaan. Bila kepercayaan pada dirinya hilang, dia akan segera menyerahkan jabatan. Apalagi kalau jelas membuat kesalahan.

Arifinto mengingatkan kita pada nilai itu. Ia mundur dari jabatannya. Hal yang dulu juga dilakukan Bung Hatta. Kebetulan atau tidak, menurut pakar politik Indra J Piliang, keduanya orang Bukittinggi. Daerah yang di masa-masa awal Indonesia banyak melahirkan pemimpin besar. Mundur dari jabatan bahkan dilakukan oleh pemimpin yang dituding pengeritiknya sebagai otoriter, seperti Soeharto. Merasa rakyat tak membutuhkannya lagi, Soeharto mundur.

Tak gampang buat memutuskan mundur. Hanya orang yang sungguh paham dan sadar apa arti jabatan yang berani mundur. Seorang yang berani mundur tahu betul bahwa jabatan bukan tujuan, jabatan hanya sarana. Bukan sarana buat memupuk kejayaan diri sendiri, melainkan sarana untuk membangun keadaan lebih baik untuk masyarakat. Maka, jabatan harus dipikul dengan penuh martabat. Jabatan dijaga dengan kepatutan dan moralitas tinggi. Seorang yang mengincar jabatan buat kejayaan diri tidak akan pernah mau mundur. Mereka akan gunakan segala cara untuk mempertahankan jabatan.

Sebaliknya bagi orang bernurani yang tahu jabatan hanya sarana, mereka akan mundur saat telah melanggar kepatutan memikul jabatan. Mereka akan mundur ketika jabatan tak lagi efektif untuk menggapai tujuan membuat kebaikan di masyarakat. Itu yang dilakukan Hatta begitu Soekarno mulai membangun pemerintahan otoriter berlabel demokrasi terpimpin.

Arifinto membuat langkah penting bagi bangsa ini, membiasakan budaya mundur. Hal yang tentu tak lepas dari sikap partainya, PKS. Partai yang dalam beberapa waktu terakhir banyak dihujani cobaan, termasuk pada kasus ini. Namun, lewat mundurnya Arifinto, PKS menunjukkan beda dengan partai lainnya. PKS melakukan hal yang hampir tak mungkin dilakukan partai lain. Dengan segala kekurangannya, partai ini relatif masih paling mengusung moralitas di kancah politik nasional. [Zaim Uchrowi, Republika]

Ketika Demonstran Bersujud | Puisi Revolusi Mesir


Ketika Demonstran Bersujud

Kami tidak mengingkari
Fir'aun pernah berkuasa di sini
Mengobar angkara, Menebar tirani
Namun toh Tuhan mengirim Musa
Memimpin perlawanan
Menggubah perubahan
Hingga datang masa kebebasan

Kini tiga dekade sudah
Fir'an lain berkuasa
Dengan gemeretak ancaman dan senapan terkokang
Jadilah bumi berselimut kezaliman
Tak ada kebebasan
Tak ada kemakmuran

Dalam diam
Berjuta rakyat mengutuk
Di tengah siang dalam bisik-bisik sunyi
Juga dalam hening malam mengadu Tuhan

Lalu kini Allah kabulkan doa kami
Orang-orang teraniaya yang munajatnya tak terhijabi
Allah tiupkan ruh keberanian
Hingga mulut ini tiba-tiba terbuka
Suarakan kebenaran
Hingga kaki-kaki mulai melangkah
Mencipta gemuruh kebangkitan
Menyemut lapangan tahrir
Menyemut di Kairo
Menghentakkan Mesir

Kini kami tak lagi berharap turun pahlawan langit
Sebab mereka sudah ada di bumi
Mereka adalah kami

Namun sadar sepenuh hati
Perubahan hanya terjadi atas kehendak penguasa langit
Karenanya kami bersujud
Tak rela lalaikan shalat berjamaah
Meski dengan leleh keringat dan menyeka luka darah
Sebab cita kami adalah perubahan penuh berkah

Apalah artinya negeri ini berubah
Dari Gamal Abdul Nasir, Anwar Sadat, lalu penguasa satu ini
Bukan itu cita kami
Apalah artinya satu tiran terjungkal
Jika bangkit tiran baru
Apalah artinya nyawa kami
Jika hanya hasilkan rezim yang sama

Perkenankan ya Allah... di persimpangan sejarah ini
Kami bermunajat dalam sujud panjang kami
Dan biarlah terik mentari yang membakar kulit
Menolak api neraka di akhirat nanti

Ya, Allah...
kepada-Mu kami adukan kelemahan
kurangnya kesanggupan
kerendahan diri berhadapan dengan manusia

Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindung kami
Kepada siapa diri kami hendak Engkau serahkan?
Kepada asing yang mengincar kami
ataukah kepada rezim yang akan menguasai diri kami
Jika Engkau tidak murka kepada kami
maka semua itu takkan kami hiraukan
karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepada kami
Kami berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu
yang menerangi kegelapan
dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat
dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan
Perkenankan ya Rab...
Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu. []