Kisah Para Pendulang Devisa


Lola Amaria, sutradara sekaligus pelakon utama dalam Minggu Pagi di Victoria Park (MPVP), akan segera merilis karyanya pada kwartal pertama 2010.
Film ini, menurut Lola, berkisah soal buruh yang sering disebut domestic helpers di Hong Kong atau tenaga kerja wanita (TKW) di tanah air.
Sutradara muda yang pernah menyabet penghargaan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2006 ini terobsesi memfilmkan soal buruh.

Ia terkesan dengan angka Rp 80 triliun dalam devisa yang dihasilkan para TKW pada 2008, dan ia bangga bisa terlibat dalam pembuatan film ini.
MVPV membutuhkan dua tahun riset dan penulisan kembali skenario hampir sepuluh kali agar menjadi sketsa atau esai visual yang semarak dan memesona, jauh dari kisah tragis yang sering ditulis di koran soal buruh kita di negeri rantau: hidup keras, pendapatan kecil bahkan penyiksaan oleh majikan.
Film terakhir Lola ini sangat jauh berbeda dengan film awalnya, Betina (2006), yang sarat dengan eksplorasi serta eksperimentasi. Genre MPVP memang adalah drama pop.
Alasan lain diproduksinya MPVP, menurut Lola, karena ia tertantang untuk melibatkan SDM Indonesia namun dengan tema buruh migran Indonesia yang sebelumnya pernah digagas Andy Lee, sutradara Taiwan (Detour to Paradise, 2008)
“Pemilihan Hong Kong karena jelas dan transparan hukumnya. Para TKW kita aman dan nyaman, nyaris tak ada masalah, selain pendapatan mereka lebih tinggi. Satu hal lagi, ada fenomena unik, yakni para buruh kita di sana sering dianggap sebagai bagian keluarga oleh majikannya, bukan lagi sekedar pembantu,” katanya.


Lola menyebutkan sisi menarik tentang Hong Kong terkait akulturasi budaya karena persentuhan perempuan dewasa dan anak kecil.
“Jangan kaget, di Hong Kong banyak anak-anak kecil sebelum makan mengucap ‘Bismillah’. Ini adalah kultur kita yang di bawa para pekerja itu sebagai pembantu di keluarga Hongkong,“ imbuh Lola.
Seluruh SDM inti film yang dibawa dari tanah air mendapatkan ucapan salut dari tim crew Hong Kong, karena dianggap well-prepared, simple dan focused serta cepat.
Malahan, Lola menyebutkan bahwa team Indonesia “berhasil memanusiakan” para pekerja di sana karena melibatkan emosi di antara pekerja film.
“Misalnya, kita sering bercanda seperti sebuah keluarga, meski tetap serius bekerja,” katanya.
Dalam wawancara, Lola berkata bahwa MPVP terinspirasi oleh film-film Sjumanjaya, yang selalu berpihak pada mereka yang hidup sederhana dan dari kalangan bawah.
Ia sendiri mengaku bahwa ia seorang otodidak dalam dunia dunia film, dan kini terus memperdalam ilmu penyutradaraan.
Lola juga belajar banyak dari mengamati para pekerja film lain seperti Riri Reza atau dengan berdiskusi bersama sutradara senior Garin Nugroho.
“Yang paling saya rasakan adalah keharusan untuk mengasah terus kepekaan terhadap hal-hal kecil pada waktu proses pembuatan film” lanjut Lola.
Rencananya, MPVP akan dirilis pada April mendatang. Ia mendapatkan dukungan dari dua produser lokal, yakni Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noel Letto) dan Dewi Umaya Rachman via payung usaha berjuluk Pic(k)Lock Production.
Naskah ditulis oleh Titien Wattimena, dan Titi Sjuman dan Donny Damara adalah para pelakon utama dan pendukung.

0 komentar:

Post a Comment

terimakasih atas komentar dan kunjungan anda.