Perempuan Digaris Depan
Apa
yang terjadi pada seorang gadis berusia 14 tahun asal sebuah desa kecil
di Jawa Barat yang baru saja memenangkan kontes menyanyi dangdut
berhadiah Rp 100 juta? Bagaimana kehidupan wanita dalam sebuah komunitas
seni tradisional di Yogyakarta? Apa yang dilakukan seorang waria
pemilik salon saat berada di Aceh? Film ”Working Girls” memotret
realitas secara jujur dan menyengat, dengan secuil bumbu jenaka.
Setahun silam, Kalyana Shira Foundation memproduksi
kompilasi empat film dokumenter bertema perempuan marginal yang dikemas
dalam judul ”Pertaruhan”. Kini, mempertegas kepeduliannya pada kehidupan
perempuan, mereka kembali memproduksi kompilasi film dokumenter bertema
senada.
Melalui proses yang lumayan panjang dan rumit, mulai dari
pemilihan 30 sutradara yang karyanya pernah diputar di festival film,
dilanjutkan kelas mengenai film dokumenter plus pendalaman isu-isu
wanita, hingga peningkatan kemampuan analisis topik gender di Indonesia.
Setelah itu, barulah terpilih tiga tim terbaik yang kemudian bertugas
melahirkan tiga karya dokumenter.
“Semua wanita dalam film ini terpinggirkan, namun tetap
berusaha keluar dari kemiskinan dan bermimpi untuk masa depan yang lebih
baik,” ujar Nia Dinata sang produser.
Sammaria Simanjuntak dan Sally Anom Sari menampilkan kehidupan penyanyi dangdut cilik yang menjadi sumber kehidupan bagi keluarganya. Penonton diajak menyaksikan keseharian Ayu Riana, mulai dari berangkat ke sekolah, memenuhi pesanan menyanyi, hingga proses pembangunan rumah keluarganya yang tentu saja dimodali honor pentas dangdut. Bagi Ayu, hidup dan mimpinya bukan lagi miliknya, melainkan milik keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Sammaria Simanjuntak dan Sally Anom Sari menampilkan kehidupan penyanyi dangdut cilik yang menjadi sumber kehidupan bagi keluarganya. Penonton diajak menyaksikan keseharian Ayu Riana, mulai dari berangkat ke sekolah, memenuhi pesanan menyanyi, hingga proses pembangunan rumah keluarganya yang tentu saja dimodali honor pentas dangdut. Bagi Ayu, hidup dan mimpinya bukan lagi miliknya, melainkan milik keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Lewat ”Asal Tak Ada Angin”, Yosep Anggi Noen seolah
menjawab pertanyaan besarnya kepada para wanita dalam komunitas seni
tradisional: ”Apakah mereka memang setia pada seni atau tidak ada
pilihan lain?” Kisahnya berfokus pada sejumlah seniman perempuan yang
tinggal di bilik-bilik bambu di belakang panggung tempat mereka setiap
hari mementaskan ketoprak.
Drama miris tersaji dari perjuangan mereka menggaet
penonton. Walau harga tiket relatif murah, penonton tetap minim, dan
sebagian bahkan memilih mengintip dari lubang bilik bambu. Selain itu,
mereka juga harus bersaing dengan televisi yang menghadirkan tontonan
”gratis” di hampir setiap rumah. Lalu apa yang membuat para seniman
bertahan?
Dokumenter terakhir yang ditangani Nitta Nazyra C. Noer
dan Daud Sumolang mengangkat kisah Ulfie, seorang waria asal Aceh yang
menjalankan bisnis salon di Jakarta dan setia mengirimkan uang untuk
keluarganya di kampung. Saat mudik ke Aceh, ia menemukan minimnya
informasi HIV/AIDS yang bisa diakses rekan-rekan warianya. Di samping
itu, ibu Ulfie dan keluarganya di Aceh juga tidak tahu-menahu tentang
HIV positif yang diidap Ulfie.
Ulfie ingin membuat perubahan. Namun mampukah ia menghadapi keluarga dan kondisi sosial di Aceh? Perjuangan waria pengusaha salon di Bumi Serambi Mekkah inilah yang membuat ”Ulfie Pulang Kampung” menjadi menarik.
Ulfie ingin membuat perubahan. Namun mampukah ia menghadapi keluarga dan kondisi sosial di Aceh? Perjuangan waria pengusaha salon di Bumi Serambi Mekkah inilah yang membuat ”Ulfie Pulang Kampung” menjadi menarik.
0 komentar:
Post a Comment
terimakasih atas komentar dan kunjungan anda.